Aku Mencintai Sahabat Pacarku
Bunga baru saja mekar di Taman Ampera Nabire pada musim semi. Harumnya
merasuk hingga di pulau seberang. Lebah terterbangan sesuka hati
memilih madu bunga yang paling manis. Jekson masih duduk merenung
seorang diri di taman itu, tepat di kursi rotan yg mulai lapuk. Matanya
masih tertuju pada kertas putih yg di pegangnya itu.
Entah ia sedang apa?
Aku masih diam di pojokan taman itu dengan beberapa pertanyaan mondar mandir semaunya dalam otak kecilku. Aku penasaran dengan kebisuan sahabatku. Ia hanya menulis dengan seksama dan penuh penghayatan pada kertas itu. Ia memang tak bicara banyak, hanya senyum dan sesekali bercanda. Tapi, kali ini ia diam merenung tanpa senyum indahnya.
Berkas-berkas senja mulai mengenai tubuhnya, seperti berkas-berkas fajar mengenainya tadi pagi di taman itu. Masih di kursi itu. Masih menulis pada kertas itu. Ia abaikan telpon pacarnya, juga telpon dariku, serta yg lainnya. Apa yang dia tulis? Entalah.
Aku mulai melangkah ke arahnya perlahan, dan akhirnya tiba juga di dekatnya, lalu menyapanya " Hay Jek, kawan, apa kabar?". "Saya baik jawabnya", seraya menyembunyikan kertas yg ia tulis sepanjang hari tadi.
Aku mengajak berbicara dengan berikan pertanyan2 konyol dan lelucon, namun ia jawab spontan saja lalu diam. Ia tak seperti biasanya. Kini ia berubah. "Sahabatku, ada masalah kah? Saya ini ko pu teman jadi cerita sama saya", tanyaku dengan tatapan meyakinkan. "Tidak ada kawan, sy hanya lemah saja hari ini. " Bukan hari ini saja ko begitu, sudah dua hari ko sudah seprti begitu, ada apa kawanku. Saya selalu ada disisimu walau dalam serumit kehidupan apa pun.
Ia masaih diam dan terus diam. Beberapa saat kemudian, aku merampas kertas yg dia tulis tadi, lalu aku membacanya. Disana tertuliskan bebera kata, " Saya telah jatuh cinta padamu, Cristine. Kau bagai mutiara terindah yg pernah saya lihat. Tapi, saya bingung bagaimana saya mengungkapkan padanya. Angin laut tolong sampaikan kegelisahan hati ini pada Cristine disana."
Saya kaget dengan tulis itu, lalu dengan lekas saya sampaikan padanya. "Kawan, apakah ini benar? Crintine adalah teman karibnya pacarmu, Herlin. Bagaimana ko bisa begitu, kawan? Tanyaku segera. "Benar kawan, 'saya pacaran sama Herlin tapi saya telah jatuh cinta Cristin. Cristine adalah segalanya bagiku kini. Saya benar2 mencintainya.
"Baru, bagaimana dengan Herlin? "Saya tidak tau, tapi yg jelas, sepertinya kami tdk cocok". "Baru bagaimana dengan saya, kawan? Kawan tau kan, klo saya juga sedang jatuh cinta pada Cristine, saya juga sering berbicara sama kawan kan, klo kami sedang smsan." Sambil memotong perkataanku " Ko, tidak tau kawan, Herlin sudah mengatakan padaku semalam, klo dia juga mencintaiku.
Aku terdiam di tempat dan hanya mendengarkan perkataan kawanku. Lanjut dia sambil berjalan " Cinta itu bukan seberapa lama kita menjalin hubungan dan seberapa kuat komunikasi. Tapi, cinta adalah kecocokan jiwa. Cinta adalah caraku memikirkan dan merindukan Cristine."
Ia melangkah semakin cepat dalam senja yang menguning dan ia menghilang dalam samar-samar pandangku.
By. Fiery Tebai
Entah ia sedang apa?
Aku masih diam di pojokan taman itu dengan beberapa pertanyaan mondar mandir semaunya dalam otak kecilku. Aku penasaran dengan kebisuan sahabatku. Ia hanya menulis dengan seksama dan penuh penghayatan pada kertas itu. Ia memang tak bicara banyak, hanya senyum dan sesekali bercanda. Tapi, kali ini ia diam merenung tanpa senyum indahnya.
Berkas-berkas senja mulai mengenai tubuhnya, seperti berkas-berkas fajar mengenainya tadi pagi di taman itu. Masih di kursi itu. Masih menulis pada kertas itu. Ia abaikan telpon pacarnya, juga telpon dariku, serta yg lainnya. Apa yang dia tulis? Entalah.
Aku mulai melangkah ke arahnya perlahan, dan akhirnya tiba juga di dekatnya, lalu menyapanya " Hay Jek, kawan, apa kabar?". "Saya baik jawabnya", seraya menyembunyikan kertas yg ia tulis sepanjang hari tadi.
Aku mengajak berbicara dengan berikan pertanyan2 konyol dan lelucon, namun ia jawab spontan saja lalu diam. Ia tak seperti biasanya. Kini ia berubah. "Sahabatku, ada masalah kah? Saya ini ko pu teman jadi cerita sama saya", tanyaku dengan tatapan meyakinkan. "Tidak ada kawan, sy hanya lemah saja hari ini. " Bukan hari ini saja ko begitu, sudah dua hari ko sudah seprti begitu, ada apa kawanku. Saya selalu ada disisimu walau dalam serumit kehidupan apa pun.
Ia masaih diam dan terus diam. Beberapa saat kemudian, aku merampas kertas yg dia tulis tadi, lalu aku membacanya. Disana tertuliskan bebera kata, " Saya telah jatuh cinta padamu, Cristine. Kau bagai mutiara terindah yg pernah saya lihat. Tapi, saya bingung bagaimana saya mengungkapkan padanya. Angin laut tolong sampaikan kegelisahan hati ini pada Cristine disana."
Saya kaget dengan tulis itu, lalu dengan lekas saya sampaikan padanya. "Kawan, apakah ini benar? Crintine adalah teman karibnya pacarmu, Herlin. Bagaimana ko bisa begitu, kawan? Tanyaku segera. "Benar kawan, 'saya pacaran sama Herlin tapi saya telah jatuh cinta Cristin. Cristine adalah segalanya bagiku kini. Saya benar2 mencintainya.
"Baru, bagaimana dengan Herlin? "Saya tidak tau, tapi yg jelas, sepertinya kami tdk cocok". "Baru bagaimana dengan saya, kawan? Kawan tau kan, klo saya juga sedang jatuh cinta pada Cristine, saya juga sering berbicara sama kawan kan, klo kami sedang smsan." Sambil memotong perkataanku " Ko, tidak tau kawan, Herlin sudah mengatakan padaku semalam, klo dia juga mencintaiku.
Aku terdiam di tempat dan hanya mendengarkan perkataan kawanku. Lanjut dia sambil berjalan " Cinta itu bukan seberapa lama kita menjalin hubungan dan seberapa kuat komunikasi. Tapi, cinta adalah kecocokan jiwa. Cinta adalah caraku memikirkan dan merindukan Cristine."
Ia melangkah semakin cepat dalam senja yang menguning dan ia menghilang dalam samar-samar pandangku.
By. Fiery Tebai

