Rabu, 05 April 2017

Mencintai namun tidak dicintai

User Waktu Tag
Hidup ini indah, apalagi kalau ditambah cinta. Sempurna sudah. Kalau lagi saling cinta, wohh.. Rasanya seperti di surga. Begitu yang sering dirasakan oleh mereka yang sedang berbagi cinta. Semua akan terlewati, walau bahaya sekali pun. Apapun akan dilakukan demi cinta. Itu kekuatan cinta.
Cinta itu indah. Apalagi bagi mereka yang saling mencintai. Mencintai dan dicintai. Apa jadinya bila mencintai namun tidak dicintai ? Pastinya mencintai wanita yang takan mungkin dimiliki dan takan dicintai. Kisah cintaku ini berbeda.

@Gambar Ilus, Perpisahan


Berawal di Dapil 5.

Rasa cinta ini berawal dari tatapan pertama di dapil 5, Jayapura. Tempat itu mereka sering sebut Asrama Hagar Madai. Hagar Madai adalah tante saya. Jadi saya boleh bilang, asrama tante saya.

Saat itu Tante Hagar menyuruhku untuk datang ke asramanya. Saya dan Jhon Yogi menemui Tante Hagar di asramanya. Jhon Yogi adalah teman saya, saya sering memanggilnya Om Pilot, karena saat itu dia sedang study di Proflight School Jakarta.

Saat masuk asrama, banyak penghuni asrama. Semuanya cewe. Mereka ramai. Sepertinya mereka sedang sibuk mempersiapkan sesuatu. Rupanya mereka sedang persiapan mencari dana Natal 2014.  Mereka mencari dana dengan karaoke. Setiap 2 lagu di patok Rp. 5.000.

Saat saya dan Jhon Yogi masuk di ruang tamu, kami disambut Tante Hagar. Mereka yang lagi sibuk mempersiapkan lomba karaoke juga menyambut kami dengan baik. ada beberapa wanita yang saya kenal dan banyak juga yang belum saya kenal.
"Ahh ini orang Jakarta, mari kita dengar dong punya suara-suara emas dulu" Sambut Tante Hagar meyambut kami dengan senang.
"Om Jhon sumbang uang sudah, kitong dua juga menyanyi " Sahut Pilot dengan cepat karna ingin nyanyi. 
"Ok sudah kalau mau menyanyi saya sumbang " Jawab saya dengan nada santai. 
"Bah Made, cuma kamu dua saja yang mau menyanyi kah? sumbang sa lagi! " 

Suara itu keras terdengar dibelakangku menggetarkan telinga yang diam. Karena kaget, saya menoleh, ingin tahu siapa orang ini !

Ee.. Rupanya dia mamade Maria Tebai (ade dari mama saya). Dia sering dipanggil Mitha Maria Tebai, sering juga dipanggil Mitha Tebai. Ya, mungkin karena dia suka dan fans sama Penyanyi Ambon yang bersuara merdu itu, Mitha Talahatu.

Tidak banyak basa basi, saya bayarkan 100 ribu. Sekitar 40 lagu karaoke disiapkan buat kami menyanyi. Kami bernyanyi secara bergantian, kadang duet dan kadang bersama-sama. Saat itu kami happy. 

Maria yang sering disebut Mitha mulai bernyanyi lepas. Semua lagun Mitha Talahatu disapu Habis olehnya. Dia tunjukan suara merduhnya di depan banyak anak asrama. Seakan dialah yang terbaik. Saat itu dialah yang paling hebat berkaraoke.

Semua kami yang ada disitu terhibur dan sangat happy. Namun, ada seorang cewe yang diam termenung di samping mamade Maria Tebai. Dia menutup mukanya dengan kain bali, membuatnya seperti memakai kerudung. Jadi ia terlihat seperti memakai topeng di malam hari. hehehe..

Wajahnya tidak kelihatan dengan baik. Saya jadi penasaran dengan dirinya yang menyembunyikan wajahnya itu. Perlahan saya dekati. Terus mendekatinya. "Wahh.. Ternyata dia wanita yang cantik. Dia juga manis, hidungnya mancung dan senyumannya menggoda hati. Sejak itu saya mulai bertanya-tanya tentang dirinya. 
"Kaka dia pu nama tu Apriliana Aida Tebai", Bisik Robi ditelinga saya dengan pelang. Robi itu adik sepupu saya yang kuliah di Jayapura. Sepertinya dia tahu apa yang saya rasakan dan pikirkan. 
Masih di tempat yang sama. Matahari tenggelam, malam datang lagi. Sudah terlalu larut malam. Tidak terasa, Daftar list lagu karaoke mulai berkurang di menu komputer. Konsetrasi hilang, pikiran terbagi, pandangan hanya kepada wanita berkerudung itu. Berharap supaya ia berbalik muka. Kesempatan, perhatian dan sedikit ekspresi kutunjukan untuk mendapat sedikit perhatiannya, namun tidak juga kutemukan. Ia masih sama seperti semula. Tidak tahu apa yang sedang dirasakannya. Mungkin dia menilaiku berlebihan. Entalah..
"Ompai kita jalan sudah besok om kan mau berangkat ke Nabire" Ajak Jhon karna su larut malam.
Wahh, dengar ajakan ini rasanya jadi malas. Pulang ? Ahh, tidak dulu ! Begitu pikirku berusaha untuk tetap tinggal.
Tapi tak apalah. Masih banyak waktu yang bisa saya gunakan untuk mendapatkan perhatiannya. Malam ini tidak berhasil. Okelah, Tak apa-apa.

"Ok sudah, ompai kita jalan" jawabku mengiyakannya dengan berat hati.
Inginnya tetap disitu. Waktu terasa berputar lebih cepat. Kumpulan lagu-lagu karaoke berkurang dengan cepat dari dafat list. semua bergerak lebih cepat. Wahh, ini rasa cinta yang muncul seketika. Berat hati untuk meninggalkan tempat itu. Berat untuk meninggalkan cewe yang berkerudung itu. Ahh sudahlah, Masih ada waktu. Akhirnya kami pamit untuk pulang.

DI Nabire
Keesokan hari saya berangkat ke Nabire. Kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Pesawat Wings Air membawaku pergi jayapura. Pikiran dan perasaan ini masih kepadanya. Dua minggu berlalu dengan cepat di Nabire. Sayangnya pikiran dan perasaan ini masih di Jayapura. Di Nabire, saya layaknya manusia yang berjalan tanpa rasa dan pikiran. Rasa dan pikiran hanya kepadanya.

Hari berlalu begitu cepat di Nabire. Tak terasa waktu memanggil untuk kembali ke Tanah Pasundan. Tempat dimana saya belajar. Bandung, sering orang bilang Kota Kembang. Ingin rasanya untuk bertemu lagi dengannya. Setidaknya untuk mendapat sedikit perhatian darinya. Namun, waktu menghalangi itu.

Di Kota Kembang

Waktu mengharuskanku untuk kembali ke kota Bandung. Seminggu berlalu di Bandung. Pikiran dan perasaan masih kepadanya. Itu terus tersimpan dalam kalbu kecilku. Masih terukir manis dihatiku. Rasa rindu, kangen dan ingin ketemu terus tumbuh.

Suatu saat, saya berpikir untuk mencarinya lewat facebook. Ternyata sangat mudah untuk mendapatkannya. Rasanyanya senang sekali. Rasa rindu sedikit terobati walau hanya di dunia maya. Saya mengajaknya untuk berteman (add friend). Tidak lama menunggu, dia mengkonfirmasi pemintaan pertemanan saya. Saya mencoba untuk memulai chating dengannya.

" Hai ade, apa kabar dan salam kenal Ade Tebai ? " 
" Ia kk salam kenal juga". Jawabnya cepat. 
Responnya yang cepat membuat sedikit tenang hatiku. Kelegaan dalam hati mulai terasa. Sepertinya, tanda-tanda kebahagiaan mulai muncul. Terlintas di benak bahwa ini awal yang baik.

Kali ini, saya mencoba untuk mendapatkan nomor handphonenya (hp). Karena takut untuk meminta lansung padanya, saya meilih cara lain. Yang termudah adalah melalui orang terdekatnya. Wah, rupanya mudah juga untuk mendapatkannya. Tambah lega rasanya. Kegalauan sudah mulai menghilang. Pikiran yang tadinya melayang kini mulai kembali normal. Semua aktifitas jadi mudah dan kujalani dengan penuh semangat. Rasanya mudah untuk melakukan apa saja. Ahh, itu mungkin semangat cinta.
Wah.. Bagaimana ku harus memulainya ??? Ini menjadi persoalan besar yang membutuhkan pikiran ekstra. Telpon, SMS atau diam saja ? ahh.. bingung !!!

Kuberanikan diri untuk menelponnya. Terlintas datang lagi dibenak untuk tidak menelponnya. SMS kayanya lebih baik. Ahh, jangan SMS, telpon saja.
Harus telpon !!! Harus.

Kali ini dengan berani saya mencoba menghubunginya. Ahh, sayangnya telponku tidak diangkat. Saya mulai bertanya-tanya, kenapa tidak diangkat ? Ahh, mungkin karena nomor baru di HPnya atau mungkin lagi sibuk atau entalah.

Dua tahun berlalu, perasaanku padanya masih melekat dihati. Natal 2016 pun mulai tiba. Rasa suka dan ingin memilikinya terus bergerumuh dari lubuk hati yang paling dalam. inginnya untuk kuungkapkan semua yang kurasa. Perasaan itu terus ada dan melekat di dalam hati.

Suatu hari, saya dengar kabar dari Natto. Dia adalah kakaknya enago Tebai. Memang bukan saudara kandung namun ada hubungan kekeluargaan dengan Natto. hubungan kekeluargaan saya dengan Natto pun dekat. Setiap hari saya memanggilnya "Aiwii" dalam bahasa ibu adalah Om (dari Keluarga Mama).

"Om, katanya adik Aida mau datang ikut natalan di Jawa. Sa nanti pergi jemput di bandara Soekarno-Hatta" Sahut Nato, setelah telponan dengan adenya, Tebai Enago. 
"Ok Aiwi kalau memang dia mau datang nanti kita jemput " Jawabku tak percaya jika ia akan datang.
Karena tak percaya, dua hari kemudian saya menelponnya.
"Hallo "Jawabnya. 
"Iya Hallo, Nona katanya mau datang ikut natal disini kah ?" Tanyaku sedikit tegang dan berat. 
"Baaa.... saya ada transit di Timika ini sedikit lagi baru ke Makassar lagi, jadi jemput saya eeee....." Jawabnya dengan nada berharap. 
"Oke nanti saya suruh Om Natto yang jemput di bandara" Jawabku meyakinkannya agar tidak khawatir. 
"Ompai kita dua jemput" Lanjutku pada Natto dengan gembira.
Ternyata, dia lebih dulu sampai di bandara. Menunggu kami di bandara dengan kedua temannya yang ingin menjemputnya juga. Saya tidak berani untuk melihatnya, saya tetap duduk di kursi belakang mobil yang kami pakai. Saya tidak keluar untuk berjabatangan atau bersalaman. Karena sedikit grogi saya memilih untuk tetap diam di jok belakang mobil.

Melihat dia, rasanya seperti putri kayangan yang telah tiba. Hatiku berdebar-debar. Mungkin seperti kincir air yang berputar kencang karena derasnya air. Saya hanya bisa diam dan termenung melihatnya.


Kita antar kedua temannya di tempat ginap mereka. Ia ingin ikut ke Bandung bersama kami. Hati saya makin legah. Malam itu seperti siang yang cerah. Bahagia rasanya, akhirnya dia bisa ikut ke Bandung bersama kami.

Hari pertama di kota Kembang. Rasanya harapan dan cintaku akan berkembang di kota Kembang ini. Saya berpikir, ini kesempatan yang baik untuk mengungkapkan isi hati kepadanya.


Saat itu, kuberanikan diri untuk ungkap perasaan. Kuungkap isi perasaan ini di kamar yang sunyi, sepi, yang hanya di temani kaca muka yang terpajang di dinding kamar. 
"Ade Aida, sebelumnya saya minta maaf, saya mau mau bicara isi hati saya. Ade benarnya itu saya sudah lama suka adik dan juga sudah lama cinta adik, tetapi belum sempat saya ungkap karena hari ini saat tepat untuk saya bicara".
Mendengar itu, dia diam tak bersuara sambil senyum-senyum kecil. Saya bingung, apa yang harus saya bicara.
"Kaka, saya juga sebenar itu suka kaka semenjak kita bertemu di Dapil 5 Jayapura" Jawabnya berusaha mengajak bicara. Cuma itu lalu ia kembali diam.
Natal IPMANAPANDOEI sudah mulai diadakan selama seminggu. Ia kembali ke Jakarta sama kaka perempuannya. Kami mengantarnya. Keesokan harinya saya berangkat ke jakarta, ikut natal bersama juga.

Terpikir olehku untuk memberikan suatu kado Natal yang spesial buat dia. Sebulum berangkat ke jakarta, saya membeli kalung Rosario. Sekaligus saya minta berkat dari Pastor biar orang yang akan pakai kalung ini diberkati.

Selama seminggu, saya berusaha untuk mencari kesempatan yang baik untuk memberikan kado spesial kepadanya. Sekalian memintanya untuk menjadi kekasih hatiku.


Satu kesempatan yang baik katika itu. Saya mencoba mengajaknya menggunakan motor untuk ikut karaoke bersama kakaknya. Sayangnya tak sempat kami berkaraoke karena terhalang hujan. Ketika sudah mulai redah, saya mengajaknya ke Puncak Bogor.
Di puncak saya mulai kasih kadonya sekaligus saya minta kejujuran darinya.

"Aida sebenar saya mau minta kejujuran saja, apakah Aida sudah punya pacar apa belum ? jika belum ada saya mau pacaran sama ade". Tanyaku dengan penuh harap. 
"Kaka minta maaf, sebenarnya saya sudah punya cowo. Saya dangan dia sudah dua tahun berpacaran tapi sudah dua bulan kami hilang kontak dan tidak berkomunikasi lagi" Jawabnya lalu diam. 
"Ooooo.. Begitu e.. Saya minta maaf kalau begitu, sebagai bukti sayang dan cinta saya mau kasih kado. Semoga ko suka. Tapi saya pesan kalung yang saya kasih ini tolong disimpan dan pakai sebagai tanda bahwa cinta saya selalu bersama Adik walau tidak pacaran sama Kaka" jawabku merelahkannya dengan orang pilihannya.
Mendengar hal itu hati saya rapuh dan hancur berkeping-keping. Mungkin seperti gelas kaca yang pecah. Saya terdiam dalam kesedihan. Walau demikian, sebagai laki-laki saya harus kuat dan tegar. Dua tahun sia-sia sudah kusimpan harapan dan cinta.
"Adik, saya sangat minta maaf sekali karena saya terlalu lancang buat Adik seperti begini" Lanjudku memintah maaf karena sudah merasa keterlaluan. 
"Kaka kalau untuk kepastian cinta dari saya ke Kaka nanti baru saya jawab, kalau sekarang saya tidak bisa menawabnya" Sahutnya lagi. Rasanya kalimat ini menguatkan saya. 
"Oke.. Tidak papa dik sampai kapan pun saya akan menunggu kepastian Adik" Jawabku menguatkan hati yang sedang rapuh.
Tiga minggu berlalu. Sekarang tanggal 31 Januari 2017. Hp saya berdering, bergetar mengagetkkanku yang sedang tidur. Ternyata telpon dari Aida di Kota Holandia.
"Hallo, Kaka lagi buat apa ?" Sapa sia. 
"Aaaa.. lagi santai saja ini" Jawabku satai. 
"Bagaimana dik ?" tanyaku penuh ingin tahu. 
"Kaka saya mau jadi pacar Kaka bisa to ?" Tanya dia yang ku dambakan.
Saat itu kalau saya jawab tidak maka bodohnya diriku. Hahaa
Itu yang saya tunggu. Begitu pikirku dalam hati.

Puas rasanya dan bahagia terasa. Dua tahun menunggu terhapus oleh kalimat ini.
Mendengar itu, hati saya sangat bahagia. Rasanya dunia ini milikku sendiri. Mulai saat itu, saya rajin untuk telfon, SMS, chat FB, Chat line, BBM vcdan dan VC. Yang saya lakukan mungkin seperti memberikan absensi padanya.

Sangat bahagia rasanya memilikinya saat itu. Rasanya saya seperti di awan. Yang saya lakukan semua menjadi mudah dan penuh semangat. Yang selama ini hanya impian telah menjadi kenyataan. Wah senangnya hatiku.


Satu bulan kemudian, ada inbox facebook darinya. Kalimat itu mengagetkan ku, membuatku jatuh dan tak tenang. Kegalauan muncul bertubi tubi. Saya yang sedang berada di awal jatuh mengalahkan kecepatan gravitasi.

"Kaka jangan inbox saya lagi ee.. Jangan telpon lagi eee..." Begitu kata dia tanpa alasan yang jelas.
Mendengar itu, rasanya seperti disambar petir di siang hari. Menghancurkan bunga yang sedang mekar. Hancur hati mendengarnya.  Tak sanggup mendengarnya. Rasanya ingin mati saja.

Saya berusaha untuk tetap tenang dan santai. Berusaha meyakinkan diri bahwa ini hanya candaan. Saya menganggap semua akan baik baik saja.
"Semuanya itu pilihanmu yang  terbaik. Supaya kau bahagia dengan orang yang kau sayangi dan cintai. Saya cuma bisa berdoa kepada Tuhan supaya cinta kalian bersatu untuk selamanya" Walau hancur hati, begitu kubalas pesannya.
Walaupun Kau hadir sebentar dalam dalam hatiku. Kau telah coret hatiku dengan tinta cintamu. Saya sangat bahagia walau cuma sebentar saja kau singga di dermaga hatiku. Biar derita cinta ini ku hadapi sendiri.
"Memang dari awal saya rasakah bahwa Ade ko benar-benar tidak cinta sa dan tidak suka dengan saya. Kau tanamkan keraguan cinta. Kepastiamu hanya pelampiasan. Tapi entalah semuanya baik saja. Maafkan saya selama ini saya mencintimu karena saya memaksakan kehendak saya sendiri padahal ade ko tidak cinta Kaka. Tapi ini menjadi pengalamn dan pelajaran cinta berharga buat saya"