Ada
juga seorang wanita cantik bernama Junitha di kota itu. Wanita yang
dikenal seorang yang baik hati, sabar dan juga tidak sombong. Ia selalu
aktif dalam organisasi kemanusiaan dan memiliki jiwa sosialisme yang tinggi. Dia juga seorang pecinta bunga. Banyak koleksi bunga di rumahnya. Mulai dari halaman depan sampai halaman belakang. Tidak hanya itu, dalamnya pun banyak bunga yang dipotkan.Junitha Betler adalah teman kuliahnya Boti. Mereka sudah saling kenal sejak masa-masa kuliah. Kuliah di kampus yang sama dan di jurusan yang sama. Namun sekarang mereka telah bekerja sejak 3 tahun lalu setelah lulus. Junitha bekerja di salah satu bank swasta sedangkan Boti bekerja di perusahaan makanan kaleng sebagai CEO (chief executive officer).
Semasa kuliah Junitha adalah wanita idaman para lelaki, salah satu diantara mereka adalah Boti. Junitha selalu menjadi incaran para pria-pria dikampusnya. Namun, Junitha selalu pintar untuk menempatkan dirinya. Baginya, persahabatan yang utama. Susah baginya untuk mencari teman daripada musuh.
Suatu saat, karena malu mengatakan rasa cintanya kepada Junitha maka setiap pagi BT selalu mengirimkan setangkai mawar merah kepada Junitha melalui seorang penjual bunga. Kebetulan saat itu keduanya masih single.
Atas anjuran BT, setiap pagi penjual bunga selalu mengantarkan dan menaruh setangkai mawar merah di depan pintu rumah Junitha. Setiap bunga yang diantarkan kepadanya selalu tidak dicantumkan nama Boti. Yang ada hanyalah alamat penjual bunga itu. Sengaja Boti melakukannya agar Junitha penasaran.
Sudah seminggu Junitha selalu mendapatkan bunga mawar merah. Tidak tahu dari mana bunga-bunga ini berasal. Setiap pagi bunga selalu dilatakkan di depan pintu rumahnya. Hal ini, membuat ia penasaran dan mulai bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya siapa orang yang selalu memberikan mawar merah kepadanya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia menemui sang penjual bunga..
“Hey, apakah Anda yang selalu mengantarkan bunga mawar merah kepadaku ?”
“Iya nona, saya hanya mengantarkan bunga itu kepada nona.”
“Lalu, siapa sebenarnya yang selalu memberikan bunga mawar merah untukku ?” tanyanya penuh rasa ingin tau.
“Tuan Boti yang menyuruhku untuk memberikan bunga mawar kepada nona. Dia tinggal disana,” sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah tempat tinggal BT.
" Ooww, rupanya dia yang selalu memberiku bunga mawar kepadaku setiap pagi," gumamnya dalam hati.
“Ya, saya mengenalnya. Dia teman lamaku sewaktu kuliah. Saya akan menemuinya dan menanyakan ini kepadanya,” katanya kepada penjual bunga.Ia lansung menemui Boti. Kebetulan saat itu Boti sedang mencuci mobil kesayangannya di depan rumahnya.
Karena melihat Junitha datang membawa bunga mawar di tangan kanannya maka ia terlihat agak bingung dan sedikit grogi. Ia berusah lebih dulu menyambutnya agar dapat menguasainya.
“Hey Junitha, selamat pagi ? baru pertama kali aku melihat kamu lewat sini,” sambut Boti.
Wah, kali ini membuat hatinya tambah gemetar.
“Iya Bot, terpaksa saya lewat sini hanya untuk menanyakan sesuatu padamu.”
“Apakah kamu yang selalu memberikan bunga mawar kepadaku ?” tanya Junitha
“Ya benar, aku yang selalu memberikan bunga mawar merah kepadamu setiap pagi. Saya yang selalu menyuruh si penjual bunga untuk mengantarkannya kepadamu.” jawab Boti dengan sedikit malu.
“Mengapa kamu selalu memberikan bunga mawar merah kepadaku ?” tanya Junitha lagi.
“Karena aku suka padamu !” Jawab BT dengan Spontan.
Lanjut Boti dengan serius, “supaya kamu tahu Junitha, aku menyukai kamu tidak sejak aku mengirimkan bunga mawar merah untukmu tetapi sejak kita masih kuliah. Aku selalu berusaha untuk mendekatimu namun perasaan maluku membuat aku tak bisa mendekatimu. Aku tidak percaya diri ketika ingin berbicara denganmu bahkan untuk bertemu sekalipun. Aku selalu saja malu dan takut. Namun dibalik semua itu, aku sangat menyukaimu bahkan mengagumimu !"
“Jika memang kamu menyukaiku, apakah tidak ada cara lain ? Kenapa harus membuatku penasan dengan bunga-bungamu ?”
“Menurutku, itu cara terbaik bagiku untuk bisa memilikimu. Sengaja aku tidak menuliskan namaku di setiap bunga mawar yang aku kirimkan kepadamu agar rasa penasaranmu yang akan memberitahukan padamu bahwa aku yang memberikan bunga-bunga itu. Inilah perasaan sukaku kepadamu. Maukah kamu menjadi kekasihku ?” dengan harap yang keras menghangatkan keberaniannya melontarkan kata-kata yang tak pernah bisa ia ungkapkan.Sejak masa kuliah, Junitha sempat menyukainya karena ketampanan dan kepintarannya. Tapi ia menganggap itu biasa-biasa saja. Baginya, menyukai adalah sesuatu yang normal bagi manusia. Namun kali ini berbeda, Boti melumpuhkan kenormalan itu sehingga Junitha jatuh hati padanya.
“Dari sekian banyak pria, baru pertama kali aku temukan seorang pria yang dapat membuat aku jatuh hati karena penasaranku atas semua bunga-bungamu. Rasa penasaranku telah membuat hatiku luluh. Sekarang, caramu telah membuat aku benar-benar suka padamu. Hadirlah dalam hidupku, temani aku dalam setiap hidupku.”
Mulai saat itu, hingga mereka hidup dalam satu keluarga, Junitha selalu mendapatkan setangkai mawar merah setiap hari. Setiap pagi bunga selalu diletakkan di depan pintu rumah. Saat suaminya bertugas di luar daerah bunga selalu diantarkan kepada Junitha. Saat suaminya sakit bunga selalu diantarkan kepada Junitha. Setiap pagi setangkai mawar merah selalu diantarkan kepada Junitha oleh si penjual bunga. Junitha yakin bahwa bunga-bunga yang selalu ia dapatkan pasti pemberian suaminya, Boti.
Sampai suatu waktu, suaminya meninggal. Junitha merasa bahwa dalam kehidupannya ia tidak akan mendapatkan bunga lagi karena suaminya telah meninggal. Tetapi tidak, setangkai mawar merah tetap saja diantarkan kerumahnya. Besok pun sama. Besoknya pun demikian. Hari berikutnya juga sama saja. Hal itu membuatnya sangat penasaran dan membuat hati Junitha tidak tenang.
Suatu saat, karena penasaran ia kembali menemui penjual bunga untuk menanyakan kembali dari mana sebenarnya asal bunga mawar itu. Lalu ia pergi menemuinya.
“Hey, suami saya telah meninggal 1 minggu yang lalu, kenapa bunga masih saja kau kirimkan untukku ? Jangan-jangan saat itu kau salah menunjukan orang kepadaku ?”Junitha menangis setelah mendengarkan kalimat itu. Dengan tangisan dari dalam hati, Junitha membalikan badannya lalu pulang ke rumahnya. Di perjalanan, ia kembali teringat kisah pertama jadian hingga bunga yang selalu hadir setiap pagi membuatnya sedih dan terus menangis. Kisah-kisah yang indah membuatnya tak bisa bertahan diri, pipinya berlinang air mata.
“Maaf Nyonya, kata Tuan Boti, bunga mawar akan stop dikirimkan jika Nyonya meninggal. Katanya, itu bukti kehadirannya dalam setiap hidup Nyonya”
Ia mengerti bahwa suaminya memberikan pelajaran berharga mengenai arti kehadiran dalam hidup. Ia bahkan merasa menyesal karena dalam hidup bersamanya Ia tidak selalu hadir dalam kehidupan suaminya. Junitha mengerti bahwa kehadiran bunga memberikan arti terpenting dalam hidupnya.
Bagi Boti, itu hanya ungkapan kebahagiaan karena telah mendaptkan seorang wanita yang disukainya. Yang berarti akan dicintainya sampai akhir hidupnya. Baginya yang utama adalah kehadiran untuk kekasihnya, Junitha. Walau hanya melalui setangkai bunga namun bunga dapat memberi arti penting dalam hidup bersama. Bunga merupakan lambang kehadirannya.
___NATTO TEBAI