Sejarah Tanah Papua
Pada tahun 1511, seorang pelaut, melihat pulau yang di kenal dengan Pulau Irian ini ketika ia kembali ke Eropa dari Maluku lewat Amerika. Pada waktu itu penghuni Pulau Raksasa ini disebut orang Papua. Pada tahun 1554 Onigo Otis de Retes mendarat dekat sungai Mambramo dan menyebut pulau ini “Nova Guinea” (artinya Guinea Baru). Pada adad berikutnya, pada tahun 1632, Cartenzs melihat pegunungan yang di tutupi salju. Kapten Cook berlayar di bagian selatan dekat muara sungai Boven Digoel. Latak pulau Irian sudah di ketahui, namun tentang penduduknya belum di ketehui apa-apa.
Berdasarkan hasil perjalanan de Retes tersebut di sampaikan kepada Bangsa Eropa pada khusunya Bangsa Belanda. Maka para Misionaris Katolik dan ekspedsi pemerintah Belanda berlayar menyusuru arah timur matahari pertama terbit. Setelah 24 tahun kemudian, tepat pada tahun 1569 misi Katolik sudah mulai memasuki daerah Papua selatan melalu Seram. Selanjutnya pada tahun 1844 didirikan Vikariat Melanesia yang juga mencakup daerah Papua. Pada tahun 1845 tujuh orang Pater Prancis dan enam Bruder tiba di pulau Papua, tetapi mereka semua dibunuh penduduk asli.Sepuluh tahun kemudian terhitung tahun 1845-1855, tepatnya pada 5 februari 1855 utusan misionaris ke Papua di pelopori oleh Bapak-bapak Tow (dari Jerman) mandarat pulau Mansinam kabupaten Manokwari-Papua Barat. Di sinilah pusat penyebaran Injil versi Zending Gereja pekabaran Injil Indonesia di Daerah Pantai Utara Papua.
Pada abad ke 19 barulah pemerintah Belanda dan lembaga agama mulai memberikan perhatian pada bulan ini. Pada tahun 1853 kapal uap yang bernama Vesuvius masuk tanah papua yang pertama kalinya orang papua melihat kapal.
Siapa yang lebih dulu masuk tanah papua? Agama protestan atau agama Katolik? Menurut Dr.F.C Kama dalam bukunya “Dit Wonderlijke werk” (artinya pekerjaan yang ajaib)Gereja Protestan melalui karyanya pada tahun 1855. Sedangkan pada tahun 1938 dia bertemu dengan zaman (iman animis atau dukun) yang memiliki buku jilid II dari Summa Teologi karangan Thomas Aquino, ahli Filsafat dari Teologi kelahiran Spanyol.Cacatan sejarah lain menyebutkan bahwa pulau dan bumi cendrawasih (Papua) ditemukan paling terkhir. Bumi cendrawasih hilang berabad-abad dan “dicari-cari” oleh pedagang Persia, Gujarat, India, Cina, Spanyol, Sriwijaya hingga Misiolog dan Antropolog Eropa dan Amerika dengan berbagai tujuan. Manusia-manusia yang mendiami bumi Papua ini pun sudah lama hidup tanpa kontak dengan dunia luar. Oleh karena Misiolog dan Antropolog Barat menjuluki tanah ini denagan sebutan”The Land That Time Forgot” pulau yang dilupakan. Residen J.P.Van Eachout menyebut “Vorgeten Arde” tanah yang dilupakan.
Dalam cacatan sejarah tanah papua banyak nama yang disebut sesuai dengan budaya dan bahasa si penemu. Ada yang menyebut tanah papua, pulau Papua atau manusia Papua. Ada pula yang menyebut tanah Irian, Pulau Irian atau Manusia Irian. Sehingga satu pulau yang diciptakan Tuhan ini memiliki banyak nama. Berikut ini nama-nama yang pernah disebut untuk menyebut tanah Papua :
1. Dwi Panta dan Samudranta
Nama ini diberi oleh pedagang-pedagang asal Persia, Gujarat dan pedagang India yang menemukan pulau itu pada abad ke VI dan VII, Dwi Panta dan Samudranta artinya ujung samudra dan ujung lautan.
2. Tungki
Nama tungki ditemukan dalam catatan harian seorang pedagang Cina bernama Chou Yu Kuan. Nama Tungki dipakai untuk menyebut tempat asal rempah-rempah (daerah Serui) oleh pelaut dan padagang asal Cina pada abad ke VIII.
3. Janggi
Pada abad yang sama (abad ke-VIII), para pelaut dan pedagang Sriwijaya mengenal bumi Cendrawasih dengan nama Janggi.
4. Papua
Pada awal abad 19 dalam tahun 1500-1800 antonio d’Abrau (1511) Franscesco Sereno (1521) menyebut wilayah itu dengan nama “Os Papuas” atau juga “Ilha de Papola” dan Don Jorge de Menetes asal Portugis beberapa tahun kemudian menamainya Papua. Nama Papua diketehui dalam catatan harian Antonio Figafetta juru tulis pelayaran Magelhaens yang mengelilingi dunia. Nama Papua diketahui Figafetta saat singga di pulau Tidore. Dalam bahasa Tidore Papua dari Kata Papu dan Ua yang artinya “tidak bergabung” atau “tidak bersatu” (not integrated), yaitu sebuah nama yang di pakai untuk menyebut sebagian tanah Papua yang tidak termasuk dalam kerjaan Tidore pada waktu itu.
5. Pulau Emas
Nama Pulau Emas diberi oleh Alvaro dan Savedra seorang pimpinan Armada Laut Spanyol yang mengikutu pelayaran Magelhaens, ketika menancapkan jangkar kapalnya dipantai utara Irian pada tahun 1528 dengan nama Isla de Oro atau Island of Gold artinya Pulau Emas.
6. Nueva Guinea
Pada tahun yang sama pelaut andal Spanyol bernama Inigo Oertis de Retes ketika berlayar dari Tidore ke Panama memberikan nama Nueva Guinea. Nama ini diberikan setelah ia melihat penduduk Guinea yang orang Belanda menyebut Niew Guinea. Dengan demikian nama Papua dan Niew Guinea digunakan secara umum pada waktu yang bersamaan.
7. Irian
Nama Irian diangkat dari bahasa Biak, Serui dan bahasa-bahasa lain di Papua oleh beberapa dewan suku-suku yang dikomandangi Frans Kaisepo, Korinus Krey, Yan Waromi dan kawan-kawan Kampung Harapan Jayapura (Holandia) pada tahun 1940-an. Atas kesepakatan bersama- sana, nama Irian disosialisasikan oleh Frans Kaisepo melalui pidatonya pada 16 juli 1946 di Konferensi Malino. Irian dalam bahasa Biak : iri artinya tanah, an artinya panas. Dengan demikian nama Irian artinya tanah panas, (iriane monda).Dalam bahasa Serui iri artinya tanah, an artinya bangsa, jadi Irian artinya tanah Bangsa atau tanah air. Dalam bahasa Merauke iri artinya ditempatkan/diangkat tinggi dan an artinya Bangsa, jadi Irian artinya Bangsa yang diangkat tinggi. Sedangkan kata-kata yang di pakai bahasa Biak, Serui dan Merauke diketemukan kesamaan kata dari bahasa suku-suku rumpun budaya koteka yakni, kata (suku Dani/Lani dan Migani) artinya saya. Sedangkan suku Mee menambah huruf “I” menjadi “Ani” artinya saya. Sementara itu, dalam bahasa Arab, Irian berarti telanjang. Dari penggalian arti Irian mengandung arti “saya ini tau bangsa ini (dibentuk) dari (debu) tanah panas yang tinggi derajatnya dari makhluk hidup lain (karena memiliki akal dan budi).
Terhadap nama-nama yang disebutkan di atas, masyarakat Irian lebih senang di panggil Papua, karena dikenal dunia luas dan identik dengan orang Irian. Walaupun secara historis, nama Papua merupakan sebutan orang Tidore berarti tidak bergabung (not integrated) dengan kerjaan Tidore pada waktu itu. Nama Papua ditetapkan sebagai nama Provinsi termasuk untuk menyebut manusia asli yang hidup diatas tanah ini bukanlah yang terpenting, tetapi tujuan akhir dari penggunaan/pemakian nama-nama tersebut, tergantung situasi dan kondisi pembicaraan.
