Senin, 28 September 2015

Tol Purbalenyi

User Waktu Tag



Disore yang indah kududuk di pinggiran jalan tol purbalenyi yang begitu ramai, aku menatap layang-layang di langit yang biru dan begitu bersahaja.
Tak terasa haripun telah sore, mata hari pun hampir di telang sang bumi. Aku masih juga menatap layang-layang yang berlayang menghiasi senja yang indah di ufuk barat.
Burung-burung pun berkejaran mencari makan di sore hari, akupun tersenyum melihat burung-burung itu mengingatkan aku pada masa kecilku dulu, yang pernah berkejaran dengan teman-temanku di masa kecil.
Tol Purbelenyi kini menjadi kenangan, walapun tol cuma sekedar jalan raya, tetapi semacam menjadi sahabat aku di waktu sore itu. Pikiranku semakin beredar dan melayang mengingat alamku papua yang jauh disana yang penuh dengan hijau dedaunan di banding tempat yang aku duduk ini, semacam dilahan kebun yang sudah dibersihkan siap di bakarnya.
Kesedihan pun datang menghantuiku, hahahaha….. lucunya lagi itu, tiba-tiba datang mendung dan tak lama lagi hujanpun turun membasahi pipiku yang tadinya tersenyum. “Hahahaha….. memau bisa menangis itu?” tanyaku dibenaku.
Dalam pikiranku  mencul ingin aku “ Komauga” atau menyanyi dalam bahasa Indonesia.
Komauga :
“Kouhamo ihowohaka makida kouha dobiho koha ihowigi tinaa tenaa kina, meka egai kina opanawena kino egana, hamake ibouda doo maka kouka ibotekoda niteuwi eteta kohaka ihowoha ikii bee tehegaii. Akai kouda tenaga kouna eteidai maa amaikai amoegada kouna hegee dimi kouna menada. Naitai Ugatame akii too nadadai tage ana umitou taita doba koo. Tete kota watihaiga anita umi anito touta”.
Aku bisa menyanyi melepas rinduku lewat lagu daerahku, di pinggiran jalan tol yang penuh dengan padatnya mobil yang berkencangan tak henti-henti.
“Purbelenyi ko tegah s’kali ko bikin sya menagis, biar sudah ko bikin sya begini” . Tapi suatu saat saya akan buat jalan tol yang lebih besar lagi dari ko purbelenyi, di bangsaku papua tanah perdamaian.