Tak terasa haripun telah sore,
mata hari pun hampir di telang sang bumi. Aku masih juga menatap layang-layang
yang berlayang menghiasi senja yang indah di ufuk barat.
Burung-burung pun berkejaran
mencari makan di sore hari, akupun tersenyum melihat burung-burung itu
mengingatkan aku pada masa kecilku dulu, yang pernah berkejaran dengan teman-temanku
di masa kecil.
Tol Purbelenyi kini menjadi
kenangan, walapun tol cuma sekedar jalan raya, tetapi semacam menjadi sahabat
aku di waktu sore itu. Pikiranku semakin beredar dan melayang mengingat alamku
papua yang jauh disana yang penuh dengan hijau dedaunan di banding tempat yang
aku duduk ini, semacam dilahan kebun yang sudah dibersihkan siap di bakarnya.
Kesedihan pun datang
menghantuiku, hahahaha….. lucunya lagi itu, tiba-tiba datang mendung dan tak
lama lagi hujanpun turun membasahi pipiku yang tadinya tersenyum. “Hahahaha…..
memau bisa menangis itu?” tanyaku dibenaku.
Dalam pikiranku mencul ingin aku “ Komauga” atau menyanyi dalam bahasa Indonesia.
Komauga :
“Kouhamo ihowohaka makida kouha
dobiho koha ihowigi tinaa tenaa kina, meka egai kina opanawena kino egana,
hamake ibouda doo maka kouka ibotekoda niteuwi eteta kohaka ihowoha ikii bee
tehegaii. Akai kouda tenaga kouna eteidai maa amaikai amoegada kouna hegee dimi
kouna menada. Naitai Ugatame akii too nadadai tage ana umitou taita doba koo.
Tete kota watihaiga anita umi anito touta”.
Aku bisa menyanyi melepas
rinduku lewat lagu daerahku, di pinggiran jalan tol yang penuh dengan padatnya
mobil yang berkencangan tak henti-henti.
“Purbelenyi ko tegah s’kali ko
bikin sya menagis, biar sudah ko bikin sya begini” . Tapi
suatu saat saya akan buat jalan tol yang lebih besar lagi dari ko purbelenyi,
di bangsaku papua tanah perdamaian.